Sabtu, 19 November 2016

Ini ceritaku. Mana ceritamu?

Rabu, 19 Oktober 2016
Hari ini mungkin hari yang sedikit "luar biasa" karena memang tidak seperti biasanya. Dimulai aku yang membuka mata jam tiga pagi. Dengan trik mencepatkan jam di handphone 30 menit lebih cepat. Alhasil, aku bangun dengan persepsi itu jam 03.30 tapi sebenarnya jam 03.00�� Tentu saja aku punya alasan mengapa harus bangun pagi. Bukan, bukan belajar, mengerjakan tugas atau PR juga bukan. Ya, aku mau membeli hatimu eh hati ayam maksudnya di pasar Tumenggungan. �� (pasti ngga ada yang nebak ini, kecuali temen sekelas). Untuk apa aku membeli hati ayam? Dimasak? (Sama sekali tak berminat) Dibuat sambel? (Sambel cabai saja sudah cukup bagiku) Digoreng?( Mending mendoane bu Mudah kayaknya) Dibuang? (Lha mengapa aku harus beli -_-) Diawetkan dan diberi mantra? ( Kok alesannya makin aneh yah(?) ). Lupakan alasan aku membeli hati nanti kau pun akan tahu. Aku pun bergegas siap-siap, dan berhasil berangkat dengan jam di handphone temanku menunjukkan pukul 05.25. Dengan semangat 45 aku mengayuh sepeda menuju kosan temanku (sebut saja Hana) .Ah temanku juga sudah siap mengayuh sepeda kesayangannya� Sungguh ini rekor berangkat terpagi bagi aku dan Hana. Menyusuri jalan tak berkelok-kelok yang aspalnya baru membuat hatiku biasa saja.� Sampailah aku di Pasar Tumenggungan yang penuh dengan sayur mayur, buah-buahan, makanan, ibu-ibu, bapak-bapak, mba-mba, dan mas-mas(kayaknya jarang deh�). Dengan sedikit ragu-ragu aku dan Hana memasuki pasar dan untungnya tidak ada adegan "semua mata tertuju pada kami" . Aku melangkah dengan pasti mendekati salah satu penjual daging ayam yang letaknya memang dekat dengan tempat aku memarkir sepeda. 
.
.
"Bu beli hati 3 jantungnya 5 ya Bu"
"Dua kali ya Bu"
"Jadi hatinya 6 jantungnya sepuluh?"
"Iya Bu, tapi jadi 2 plastik"
"Untuk percobaan ya mba?"
"Iya Bu"
"Mbanya dari SMP mana?"
(Aku dan Hana tersenyum geli, kami dikira masih SMP wkwkwkwk)
"Dari SMA 1 Bu"
"Owalah SMA tohh tak kira SMP"
Kami membayar dengan harga yang kami ngga tau itu murah atau mahal karena memang kami jarang ke pasar dan ngga pernah beli kaya ginian. Setelah itu, kami membeli kunyit yang juga diperlukan untuk praktikum Biologi. Satu hal yang membuatku lumayan kaget yaitu aku beli kunyit dua ribu dan dapat banyak banget kunyit (satu kresek hitam penuh). Aku mendapatkan pelajaran bahwa harga kunyit itu murah.�� Kami beranjak pulang karena memang hanya itu yang perlu kami beli. Jam di handphoneku menunjukkan pukul 06.21 saat itu (jadi waktu sebenarnya yaitu jam 05.51, ternyata tak memakan banyak waktu). 
"Lu, ini masih pagi banget, aku bingung di sekolah mau ngapain?" kata Hana. 
���
.
.
Ya demikian kisah "luar biasa" yang terjadi pagi tadi. Sesungguhnya setelah itu ada peristiwa "luar biasa" lagi seperti bapak yang tersenyum simpul, Mertokondo punya cerita, berangkat sekolah hanya menenteng sekantong plastik, dan yang lainnya. Tapi berhubung aku sudah malas mengetik dan kalau diceritakan akan sangat panjang. Jadi saya cukupkan sampai disini. Sekian dan terima kasih. 
Maafkan cerita gaje saya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar